Trend setter or trend follower?

27 Mar

Ada beberapa kenalan saya yang dengan nekad mengikuti gaya tren sekarang, apalagi anak-anak muda sekarang juga senang bereksperimen dengan gaya sampai menemukan yang pas. Waktu SMA dulu, saya juga masih mencari jati diri dengan coba-coba lagu, selera berpakaian, sampai ketemu yang bener-bener mencerminkan siapa saya sebenarnya. Ada juga teman yang lebih suka untuk dress simply, dengan koleksi yang hampir sama dan itu-itu aja. Ada yang suka hunting bargain clothes murah-murah dan dipadu-padan, ada juga yang hanya membeli barang bermerk di mal dan malas beli yang tidak bermerk karena alasan mutu. Yang mana yang benar?Semua orang berbeda, itu intinya. Ada pentingnya kita menemukan gaya kita yang sesungguhnya, walau tetap masih sesuai dengan tren. Tapi yang paling penting menurut saya adalah, kita nyaman dengan pakaian yang kita kenakan. Beberapa tips pribadi untuk menghadapi tren dan berbelanja:

1. Selalu simpan beberapa item yang klasik dan tak kenal tren

Misalnya, kemeja putih polos, ikat pinggang sederhana, pashmina atau syal, jeans yang nyaman dikenakan, little black dress (kalo buat saya yang paling penting ada di lemari adalah little white dress dan segala sesuatu yang warnanya putih), sepatu hak tinggi model klasik, dan cardigan. Karena benda-benda sejenis ini bisa dipakai sepanjang waktu dan tidak mengenal jaman. Selain nyaman, esensial juga untuk padu-padan.

2. Which leads us to the next tip.. mix and match

Saya tidak bisa bilang betapa pentingnya mix and match, karena selain bisa mengirit uang belanja barang yang kurang perlu dan hanya sedang tren sesaat, mix and match artinya kita bisa selalu tampil beda. Teman-teman sekantor saya selalu berkomentar kalau mereka tidak pernah melihat baju yang sama saya pakai dua kali dalam dua minggu. Kenapa? Apakah karena koleksi baju saya lebih banyak dari mereka? Tidak juga. Saya lebih senang memadu-madankan pakaian, misalnya dengan bermain dengan aksesoris seperti kalung, scarf, tas, bando dan sepatu, lalu dengan variasi vest, ikat pinggang dan jaket dipadukan dengan pakaian lama yang sama. Hasilnya adalah lima gaya berbeda dalam seminggu dengan modal beberapa jenis pakaian yang sama.

3. Recycle your wardrobe, but don’t throw away too much

Tren tabrak motif, garis-garis, leopard skin, dan tights yang sudah berlalu bisa saja jadi tren kembali dalam waktu dekat. Tidak ada salahnya menyimpan koleksi lama kita untuk jadi modal lagi tahun depan. Misalnya, sekarang kembali tren baju-baju vintage jaman oma dan mama dulu. Lalu tren floral yang dulu sempat tren, kembali tren lagi. Jadi jangan segera buang barang-barang lama kamu, teliti lagi mana yang masih bagus dan bisa dipakai.

4. Jangan beli barang tren lebih dari lima buah

Saran ini saya dapatkan dari majalah. Memang benar, sayang rasanya kalau kita keburu kalap dan membeli motif yang sedang tren sebanyak-banyaknya hanya karena sedang tren sementara. Cukup koleksi beberapa yang benar-benar nyaman dipakai dan cocok dengan siluet tubuh, sehingga kalau sudah lewat trennya nanti, kita tidak perlu merasa kecewa dengan barang-barang yang kini nampak oke tapi nanti jadi expired. Intinya, don’t lose yourself in a current trend. Artinya jangan terlalu kalap… hehehe.

5. Be your own trendsetter

Ah, tips ini saya anut seperti minum air. Menurut saya, penting sekali menjadi trendsetter bagi diri sendiri. Saya tidak pernah terlalu peduli dengan apa kata orang mengenai gaya berpakaian dan trend sekarang, selama saya nyaman dengan pakaian yang saya pakai dan masih tidak melanggar aturan kesopanan. Kalau saya masih nyaman mengenakan tights walau musimnya sudah lewat dan sekarang sepanas Sahara, kenapa tidak? Kalau saya lebih nyaman mengenakan trapeze dress yang longgar daripada fitted dress dengan bahan mengkilap, that’s my choice. Setiap orang memiliki etika berpakaian mereka sendiri, dan selama tren yang berlangsung sesuai dengan selera, tidak ada salahnya diikuti. Tapi jika tidak, menurut saya tidak perlu memaksakan diri. After all, a person’s personality can be determined from the way she dresses, but confidence can only be seen when someone is comfortable with the clothes she wears.

Lebih baik nyaman dan pede daripada canggung tapi up to date, bukan?

6. Find a personal shopper/stylist

Kalau kamu bukan jenis orang yang suka memilah-milah fashion dan malas berbelanja, atau sering kebingungan menemukan gaya berpakaian yang cocok untuk kamu, tidak ada salahnya mencari teman yang bisa memberi saran berpakaian. Beberapa kenalan saya lebih sering dibelikan baju oleh pasangannya, atau bertanya pada teman untuk tips berpakaian yang sesuai dengan dirinya.

Memang ada beberapa orang yang tidak terlalu bisa ‘membaca’ fashion dan menemukan apa yang cocok bagi mereka. Hal ini sah-sah aja kok, karena masing-masing orang pasti punya kelebihannya sendiri di bidang lain. Jadi, cobalah cari advice mengenai jenis baju yang cocok untuk kamu dan sesekali bereksperimen dengan gaya baru supaya tidak terlalu lama stuck dalam comfort zone.

7. Shop wisely

Do you really need another tube dress? Do you really need the same pair of shoes in different color? Saya sendiri tipe orang yang kadang bisa kalap belanja dan menyesal kemudian. Hal ini saya siasati dengan mencari tambahan melalui butik online, menjual koleksi-koleksi lama yang sudah tak dipakai lagi, atau menjual kembali barang belanjaan yang ternyata kurang pas setelah dibawa pulang dan dicoba ulang. Sah-sah aja sih belanja, asal tidak besar pasak daripada tiang ehehehehe. Kalau tidak, tebuslah belanja itu dengan mengirit di bulan depan (saya banget sih hehehe).

Happy shopping, happy trend hunting🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: