Kebaya, Sudah Jadi Gaya Hidup

19 May

Kebaya tak ada lagi yang seragam. Kebaya rancangan Amy Atmanto ini terbuat dari bahan velvet dan beludru khas jawa.

Bila ada busana yang memberikan banyak inspirasi terhadap ”fashion”, status sosial, ataupun identitas, itu adalah kebaya. Bagi kita, kebaya lekat dengan keseharian. Busana itu dipakai nenek dan orang tua, mulai dari si mbok penjual jamu sampai ibu negara.

Pada sebuah sore di pengujung April, tetamu memenuhi pergelaran kebaya Amy Atmanto di sebuah pusat pertokoan elite di kawasan Thamrin, Jakarta. Pejabat, mantan pejabat, dan sosialita berbaur menjadi satu. Sebut saja Linda Agum Gumelar, Siti Fadilah Supari, Mien Uno, Rima Melati, Tati Fauzi Bowo, sampai Marini Zumarnis dan Diah Permata Sari. Semua mengenakan kebaya dan mereka saling memuji kebaya yang digunakan satu sama lain.

Yang menarik, tidak saja nuansa warna-warni yang memenuhi ruangan, tetapi juga tak ada kebaya yang tampak ”seragam”. Kebaya merah yang dikenakan Fadilah Supari, misalnya, jauh dari kesan formal. Kain yang dikenakannya pun terlihat santai, mirip lilitan sarung. Dalam balutan kebaya, sosok Fadilah yang selama menjadi menteri kesehatan dulu dikenal lugas justru terkesan lebih rileks.

Kebaya menjadi hot issue di sepanjang April lalu. Bisa jadi karena April erat terkait dengan Hari Kartini, sementara peringatan Kartini kerap diasosiasikan dengan kebaya. Bulan itu juga biasanya merupakan kesempatan bagi para perancang senior dan baru untuk menginterpretasikan kembali kebaya sesuai dengan karakter perempuan Indonesia terkini.

Menengok ke belakang, perjalanan kebaya sudah sangat panjang. Kebaya pertama kali dipakai di Indonesia sekitar abad ke-16. Menurut pemilik rumah kain Bin House, Josephine Komara, atau dikenal dengan Obin, orang Indonesia dulu tidak mengenal budaya memakai baju, tetapi memakai kemben. ”Baju mulai dikenal ketika orang Portugis dan Belanda datang. Baju ini kemudian dipakai dengan tetap memakai kemben sehingga muncullah bentuk kebaya, kebaya bef,” kata Obin.

Berhubung budaya kancing belum dikenal di Indonesia, perempuan pada masa lalu memakai peniti untuk menyatukan dua sisi baju. ”Dan, lahirlah bentuk kebaya Kartini. Ditambah manik-manik, jadilah peniti ini juga berfungsi hiasan,” kata Obin, yang mengenal kebaya sejak kecil. Ia mengaku sangat menikmati memakai kebaya. ”Perempuan tentunya punya kecenderungan memakai sesuatu yang membuatnya lebih cantik dan nyaman. Untuk itu, saya memilih kebaya,” katanya.

Simbol politik
Dalam perjalanannya, kebaya telah memerankan aneka fungsi, baik politik, sosial, maupun budaya. Henk Schulte Nordholt dalam bukunya, Outward Appearances, misalnya, menuliskan betapa kebaya pernah menjadi simbol politik perempuan Indonesia.

Selama periode pendudukan Jepang (1942-1945), para perempuan Indonesia yang kala itu menjadi tahanan perang memilih mengenakan kain kebaya ketimbang mengenakan baju tahanan ala Barat. Sikap ini menunjukkan posisi politik untuk membedakan mereka dengan para perempuan tahanan perang asal Belanda.

Tak mengherankan jika pasca-kemerdekaan Presiden Soekarno kemudian mentransformasi kebaya sebagai busana nasional. Namun, posisi ”terhormat’ itu pupus pada era Orde Baru. Kebaya menjadi seragam wajib Dharma Wanita dan perempuan di lingkungan pegawai negeri wajib menjadi anggota Dharma Wanita. Fungsi ”kontrol” yang dipaksakan melalui kebaya membuat sebagian perempuan yang melek politik pada masa itu bersikap antipati dan mengaitkan kebaya sebagai simbol ”opresi’.

”Dulu kebaya menjadi simbol pengekangan terhadap perempuan. Hal itu bisa dilihat pada zaman Orde Baru, terutama di kalangan ibu-ibu Dharma Wanita. Mereka rela tersiksa dengan mengenakan kebaya dan kain ketat agar tampil cantik dan anggun. Ketika itu, kebaya tampil sebagai uniform atau seragam,” kata sosiolog Julia Suryakusuma.

Namun, kini kebaya lebih merupakan bagian dari fashion dan gaya hidup. Kebaya tidak lagi dimaknai dengan kaku. ”Kita bisa melacak kecenderungan bahwa yang diutak-atik para desainer itu tidak jauh-jauh dari kebaya dan batik. Rupanya, kesadaran politik bahwa kebaya adalah pakaian nasional sudah tertanam kuat,” tutur Julia.

Kolaborasi di antara para perempuan, pengusaha mode, perancang busana, dan pencinta budaya untuk menginspirasi generasi muda bahwa kebaya merupakan salah satu identitas bangsa yang perlu dipelihara mulai terlihat. Dalam beberapa tahun terakhir, tren kebaya terus menguat dalam keseharian kaum muda. Tentunya dalam gaya dan potongan yang disesuaikan.

”Sekarang ini ada kebaya berlengan pendek. Mereka, bahkan, memadukan dengan celana jins. Saya juga membikin kebaya dengan tangan tiga perempat supaya lebih elegan, enggak ribet, dan bisa dipakai sebagai daily wear,” kata Obin.

Bolehlah kita berharap kebaya juga akan mengikuti jejak batik yang saat ini sudah menjadi bagian dari busana sehari-hari. Jangan sampai negara lain keburu mengetap kebaya sebagai busana nasionalnya dan kemudian kita mencak-mencak (lalu ramai-ramai lantang bicara tentang kebaya—tanpa pernah memakainya). Kebaya, yes!

Sumber: Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: