Kalung, Aksesori yang Tak Lekang Waktu

22 Jun

Mencari titik awal manusia mulai menggunakan kalung bukanlah perkara yang mudah. Kendati demikiran, sejarawan dan arkeolog mengatakan, bahwa kalung sudah dipakai sekitar 30 ribu SM, dengan ditemukannya fosil manusia pada jaman itu yang sudah memakai kalung berbahan gigi hewan dan tulang.

Pada masa peradaban bangsa Mesir atau saat penjajahan Romawi, kalung bukan sekadar aksesori, tapi menandai kelas seseorang, semakin tinggi kelas ekonominya, semakin banyak jumlah kalung yang dipakai dan semakin mewah bahan kalungnya.

Hal ini semakin tampak di masa imperialisme Kaisar Alexander Agung dari Macedonia sekitar abad 300 SM, yang menduduki negeri Mesir dan juga mengalahkan masa penjajahan Yunani. Kala itu, di bawah pemerintahannya, emas mudah ditemukan dan dipakai sebagai bahan pembuat kalung, yang otomatis memicu munculnya berbagai jenis perhiasan lain yang terus berlanjut hingga sekarang.

Sampai sekarang, memisahkan kalung dengan elemen pendukung gaya, rasanya cukup sulit untuk dilakukan. Kalung telah menjadi bagian dari pelengkap sehari-hari saat berbusana atau sebagai aksesoris yang menunjukkan selera pribadi pemakainya.

Kalung pun tetap digemari dari berbagai kalangan terutama kaum perempuan, dari usia anak-anak hingga dewasa. Dengan kalung, aksen yang ditampilkan pun beragam tergantung bagaimana memadupadankan dengan busana dan tubuh.

Statement necklace” yang banyak digunakan desainer kenamaan menjadi sesuatu yang kini digandrungi. Ini merupakan kalung berbahan variatif yang dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan, seperti batu dengan kayu, logam, perak, bahkan manik-manik dengan batu sekalipun.

Ditambah dengan warna-warni menarik dari bahannya serta bentuk unik, semakin menunjukkan bahwa kalung bisa menjadi aksesori yang “berbicara”. Tujuannya tentu untuk memberikan ruang lebih besar sentuhan karakter pribadi, serta tren ekspresi pemakainya yang otomatis menambah nilai estetis pada busana yang hendak dikenakan.

Jika berminat untuk memakai kalung jenis ini, ada beberapa cara yang perlu diperhatikan, seperti hindari memakai busana bermotif penuh. Sebaiknya kenakan busana atau atasan dengan potongan dan motif simpel serta bentuk kerah yang sederhana agar kalung menjadi pusat perhatian.

Kemudian, sebaiknya batasi aksesori lain yang dipakai, apabila hendak memakai “statement necklace“, seperti gelang chunky, dan aksesori rambut dan anting berukuran besar. Tak kalah pentingnya, tetap proporsional antara kalung yang dikenakan dengan bentuk tubuh. Misalnya, bagi mereka yang berpostur tinggi, disarankan untuk memakai kalung berukuran besar. Terakhir, tatanan rambut yang simpel pun akan mendukung penampilan kalung jenis ini untuk lebih tampil dan terlihat. Tampil gaya dan unik cukup dengan seuntai kalung.

Sumber: Kompas Klasika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: